JAKARTA — Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyiapkan strategi rekayasa lalu lintas secara bertahap untuk menghadapi arus balik Lebaran 2026. Kepala Korlantas Polri Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. menyatakan bahwa penerapan sistem one way nasional hingga contraflow akan dilakukan secara situasional mulai 23 hingga 29 Maret 2026, dengan puncak arus balik diperkirakan terjadi pada 24 Maret.
Langkah ini disusun berdasarkan evaluasi arus mudik yang mencatat lonjakan kendaraan signifikan, serta proyeksi peningkatan pergerakan masyarakat yang kembali ke wilayah asal, khususnya menuju Jakarta dan sekitarnya.
Irjen Agus menjelaskan bahwa arus mudik tahun ini mencatat volume kendaraan yang tinggi, bahkan menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Dalam satu hari, jumlah kendaraan yang melintas menuju Trans Jawa dan sekitarnya mencapai ratusan ribu unit. Kondisi tersebut mendorong Korlantas untuk menyiapkan strategi lebih adaptif pada fase arus balik.
Menurutnya, pengalaman selama arus mudik menjadi dasar penting dalam menyusun pola pengaturan lalu lintas. Berbagai rekayasa seperti contraflow hingga penutupan jalur tertentu telah diterapkan untuk menjaga kelancaran arus kendaraan, meskipun kepadatan tetap terjadi di sejumlah titik.
Memasuki arus balik, Korlantas memastikan seluruh personel dan sistem pendukung telah disiagakan. Pengaturan lalu lintas tidak hanya mengandalkan rekayasa di lapangan, tetapi juga memanfaatkan teknologi digital seperti traffic counting, pemantauan radar, serta command center yang terintegrasi.
“Seluruh langkah ini kami lakukan agar arus balik dapat berjalan lancar dan masyarakat tetap merasa aman dalam perjalanan,” ujar Irjen Agus.
Ia menambahkan bahwa distribusi kendaraan pada arus balik diperkirakan terbagi antara wilayah Trans Jawa sebesar sekitar 66 persen dan Jawa Barat sekitar 30 hingga 35 persen. Pembagian ini menjadi dasar dalam menentukan titik awal penerapan rekayasa lalu lintas.
Untuk tahap awal, Korlantas akan menerapkan one way lokal secara bertahap, dimulai dari titik-titik tertentu seperti KM 188 atau KM 263, menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Selanjutnya, arus kendaraan akan diarahkan menuju KM 70 sebelum dilanjutkan dengan contraflow hingga mendekati wilayah Jakarta.
Penerapan kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan parameter traffic counting. Jika volume kendaraan di titik tertentu, seperti Gerbang Tol Kalikangkung, mencapai ambang batas tertentu dalam periode waktu tertentu, maka rekayasa lalu lintas akan segera diberlakukan.
Selain itu, Korlantas juga telah menyiapkan skenario penerapan one way nasional pada puncak arus balik. Rencana ini dijadwalkan dimulai pada 24 Maret pukul 14.00 WIB, dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas secara real-time.
Namun demikian, Irjen Agus menegaskan bahwa seluruh kebijakan bersifat dinamis. Jika volume kendaraan masih tinggi setelah tanggal tersebut, maka sistem one way nasional dapat diperpanjang hingga beberapa hari berikutnya.
“Kami akan melihat perkembangan di lapangan. Jika arus masih padat, maka rekayasa akan dilanjutkan agar distribusi kendaraan tetap terkendali,” katanya.
Di sisi lain, Korlantas juga mengantisipasi dampak penerapan one way terhadap jalan arteri. Potensi peningkatan beban di jalur non-tol telah diperhitungkan melalui skenario pengalihan arus yang melibatkan jajaran kepolisian daerah.
Pengaturan lalu lintas di jalur arteri akan difokuskan pada titik-titik rawan kepadatan, termasuk kawasan wisata, pusat perbelanjaan, serta jalur penghubung antar kota. Personel di lapangan akan mengatur pergerakan kendaraan agar tidak terjadi penumpukan yang berlebihan.
Selain rekayasa lalu lintas, Korlantas juga mengoptimalkan pemanfaatan jalan tol fungsional untuk mendukung kelancaran arus balik. Salah satunya adalah ruas tol Japek II Selatan yang dapat digunakan untuk mengurai kepadatan di jalur utama.
Ruas tol tersebut dinilai mampu mengalihkan sebagian kendaraan dari jalur utama menuju rute alternatif, sehingga distribusi arus menjadi lebih merata. Selain itu, sejumlah ruas tol fungsional di wilayah lain juga disiapkan untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Dalam upaya mengurangi kepadatan pada puncak arus balik, Korlantas mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan secara bersamaan pada satu hari tertentu. Pemudik disarankan untuk memanfaatkan fleksibilitas waktu perjalanan, terutama dengan adanya kebijakan kerja dari mana saja.
Irjen Agus menekankan bahwa penyebaran waktu perjalanan menjadi kunci utama dalam mengurangi beban lalu lintas. Dengan demikian, kepadatan dapat ditekan dan perjalanan menjadi lebih nyaman.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak terfokus pada satu tanggal. Perjalanan bisa dilakukan lebih awal atau setelah puncak arus balik untuk menghindari kepadatan,” ujarnya.
Korlantas juga memastikan bahwa seluruh unsur pengamanan telah disiapkan, termasuk pos pengamanan, pos pelayanan, serta satuan tugas yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban selama periode arus balik.
Dengan strategi yang telah disusun, Korlantas berharap arus balik Lebaran 2026 dapat berjalan aman, tertib, dan lancar. Evaluasi akan terus dilakukan secara berkala untuk menyesuaikan kebijakan dengan kondisi di lapangan.
