Retail
No Result
View All Result
Senin, Mei 11, 2026
  • Login
  • BERANDA
  • ISTANA
  • LEMBAGA TINGGI
  • JAGA INDONESIA
  • KEMENTERIAN
Publikasi Pemerintah Untuk Masyarakat
No Result
View All Result

Strategi Irjen Agus Suryonugroho: Membangun Kepatuhan Lalin Lewat Meja Kopi

by superadmin
29 April 2026
in Beranda, Berita Nasional
1 0
0

JAKARTA — Wajah polisi lalu lintas di jalan raya kini sedang mengalami transformasi besar. Jika dulu interaksi aparat dan warga identik dengan situasi formal yang kaku, kini ruang itu melebar ke tempat-tempat yang lebih cair. Warung kopi, pangkalan ojek online, hingga komunitas motor menjadi titik temu baru yang hangat antara polisi dan masyarakat.

Perubahan ini bukan sekadar gaya komunikasi, melainkan transformasi cara pandang institusi. Di bawah arahan Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., polisi lalu lintas didorong untuk hadir sebagai mitra kehidupan sehari-hari. “Kami hadir bukan hanya untuk mengatur, tapi untuk berinteraksi,” tegas Irjen Agus.

YOU MAY ALSO LIKE

Bukan Sekadar Seremonial, AI Influencer Renjani Nyrah Bedah Isu Lingkungan di Podcast Qudoin

Rekor Mudik Tertinggi Sepanjang Sejarah Berhasil Dikendalikan, Ini Penjelasan Kakorlantas

Angka Fatalitas Turun 31 Persen, Irjen Agus Suryonugroho: Ini Keberhasilan Bersama Media

Transformasi Polantas: Mengubah Kepatuhan Karena Takut Menjadi Kesadaran Mandiri

Implementasi nyata terlihat di berbagai daerah. Di Lubuk Linggau, program Bangkopling (Bangun Komunikasi Polisi Lalu Lintas) mengajak warga berdialog sambil ngopi santai di pinggir jalan. Di sini, batas birokrasi mencair; warga bebas menyampaikan aspirasi soal titik rawan kecelakaan hingga pelayanan publik tanpa rasa sungkan.

Hal serupa terjadi di Purwakarta dan Probolinggo. Polantas tidak lagi menunggu di balik pos, melainkan aktif mendatangi pangkalan ojek dan komunitas untuk berdiskusi soal keselamatan berkendara. Pesan keselamatan terbukti lebih mudah meresap saat disampaikan dalam suasana horizontal—sebagai sesama warga negara yang saling peduli.

Transformasi ini menandai pergeseran peran Polantas dari sekadar pemegang otoritas menjadi pembangun relasi. Tantangan jalan raya hari ini bukan hanya soal aturan teknis, melainkan soal budaya dan perilaku. Masyarakat cenderung lebih menerima edukasi dari aparat yang mau mendengar keluhan mereka.

Langkah strategis seperti pembentukan Asosiasi Ojol Nusantara sebagai wadah kolaborasi keselamatan menunjukkan bahwa masyarakat kini diposisikan sebagai mitra, bukan sekadar objek kebijakan. “Keselamatan tidak bisa dijaga sendiri, harus bersama,” menjadi semangat kolektif yang diusung Korlantas.

Selama ini, kepatuhan seringkali lahir karena rasa takut akan sanksi tilang. Namun, model ini memiliki batas. Kepatuhan yang abadi lahir dari kesadaran, dan kesadaran tumbuh dari kepercayaan. Saat petugas menyapa dengan ramah, membantu pengendara mogok, atau memberikan penjelasan jujur, di situlah legitimasi sosial terbangun.

Jalan raya bukan lagi sekadar infrastruktur aspal, melainkan ruang sosial tempat negara hadir dalam bentuk pelayanan yang paling tulus. Jika budaya menyapa ini terus dirawat sebagai refleks setiap anggota Polantas, maka kepatuhan masyarakat tak lagi lahir karena paksaan, melainkan karena rasa percaya pada institusinya.

Tags: KakorlantasKorlantas PolriPolentas MenyapaPolri PresisiWajah Baru Polri
Share1Tweet1SendShareShare

Pencarian

No Result
View All Result
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kebijakan Privasi
  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Citizen Journalism

© 2020 - © Copyright humasRI Team All Rights Reserved .

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • ISTANA
  • LEMBAGA TINGGI
  • JAGA INDONESIA
  • KEMENTERIAN

© 2020 - © Copyright humasRI Team All Rights Reserved .

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?